Syarat Diterimanya Suatu Doa

Artikel

Syarat Diterimanya Suatu Doa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS Al Baqarah : 186)

syarat diterimanya suatu doa

Doa merupakan senjata bagi seorang muslim. Dalam Islam, doa menempati posisi sangat penting. Tidak hanya digunakan untuk meminta kebutuhan hidup semata, melainkan sebagai sarana berinteraksi dengan Allah dan juga sarana beribadah.

Doa dapat bermakna memohon, minta diambilkan (sesuatu), membutuhkan, meminta tolong, atau mengajak dan mendorong untuk melakukan sesuatu. Namun definisi kalangan ahli ushul dan fiqh, doa adalah tuntutan perbuatan dari derajat yang rendah kepada derajat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, doa adalah salah satu bentuk dari permintaan. Kita telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. untuk memanjatkan doa dan meminta apapun kepada Allah, kapanpun dan dimanapun kita berada. Namun, apa saja syarat diterimanya suatu doa ?

Pertama, tidak berdoa kecuali kepada Allah Swt. Syarat ini termasuk syarat doa yang paling penting. Banyak diantara orang-orang yang berdoa tidak ditujukan kepada Allah Swt., melainkan berdoa kepada makhluk atau benda mati seperti patung, binatang, mayat, atau kuburan.

Kedua, melakukannya dengan ikhlas. Menurut Ibnu Katsir mengatakan “Setiap orang yang beribadah dan berdoa hendaknya dengan ikhlas, yakni semata-mata hanya karena Allah. Ini syarat umum Ibadah, termasuk doa, sebagaimana firman-Nya,

dan (aku telah diperintahkan), ‘Hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan tulus dan ikhlas, dan jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang musyrik.” (QS Yunus : 105)

Ketiga, yakin bahwa doa akan dikabulkan oleh Allah Swt. seperti telah di jelaskan dalam Riwayat Hadits At Tirmidzi yakni, ”Berdoalah kalian kepada Allah Swt. dalam keadaan yakin akan terkabulnya doa itu.” (HR At Tirmidzi)

Allah Swt. bagaimana prasangka hambanya, saat hambanya berprasangka kurang baik terhadap-Nya, maka akan seperti itulah. Namun sebaliknya jika hambanya berprasangka baik, maka Allah Swt. akan baik pula.

Dalam berdoa  kita harus ada dimana titik posisi yang khusu, fokus, serius dan tidak main-main. “Ketahuilah bahwa Allah Swt. tidak akan mengabulkan doa dari seseorang yang lalai dan tidak serius.”(HR Tirmidzi)

Keempat, Doa dengan suara pelan, rendah diri, dan penuh harap.”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. (QS Al A’râf : 55-56)

Wahai orang-orang! Kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak sedang berdoa kepada yang tuli dan yang tiada. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (HR Nasa’i)

Kelima mempunyai sifat Konsisten  , Dalam keadaan susah ataupun senang, terus berdoa tidak hanya dalam keadaan butuh atau sedang ada keperluan saja. Di setiap kondisi apapun jangan lupa berdoa.

Barang siapa sering dikabulkan doanya pada saat sulit dan susah, perbanyaklah berdoa disaat senggang.” (HR At Tirmidzi)

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (kejalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.” (QS Yunus : 12)

Baca juga : Pentingnya Memahami Sejarah Dakwah

Leave a Reply